5BERITA.COM, Jakarta — Novel Kehilangan Mestika karya Hamidah tidak hanya bercerita tentang pengalaman seorang perempuan di tengah masyarakat yang masih memegang tradisi kuat, tetapi juga menghadirkan kritik terhadap cara pandang yang membatasi perempuan atas nama adat. Melalui tokoh utamanya, Hamidah menunjukkan bahwa perubahan sering kali berhadapan dengan penolakan, terutama ketika menyentuh kebiasaan yang telah lama dianggap sebagai kebenaran.
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah ketika tokoh utama berusaha membuka kesempatan pendidikan bagi gadis-gadis di daerahnya. Alih-alih mendapat dukungan, ia justru menerima berbagai cacian dari masyarakat. Mereka memandang kebebasan perempuan untuk bersekolah dan beraktivitas di luar rumah sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai yang mereka yakini.
Kondisi tersebut muncul karena masyarakat tidak mampu membedakan antara adat dan agama. Tokoh utama bahkan mengatakan, “Tak tahu mereka membedakan yang mana dikatakan adat dan yang mana pula agama” (hlm. 18). Akibatnya, berbagai kebiasaan yang sebenarnya merupakan produk budaya diwariskan seolah-olah menjadi aturan agama yang tidak boleh dipertanyakan. Salah satunya adalah tradisi pingitan yang membatasi ruang gerak perempuan dan menutup kesempatan mereka untuk memperoleh pendidikan.
Kekuatan kritik Hamidah terletak pada keberaniannya menunjukkan bahwa hambatan terbesar bagi perempuan bukan selalu kemiskinan atau kurangnya kemampuan, melainkan cara pandang masyarakat yang enggan mempertanyakan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Ketika adat ditempatkan di atas kebutuhan untuk berkembang, perempuan sering kali menjadi pihak yang paling dirugikan. Mereka kehilangan kesempatan untuk belajar, berpendapat, dan menentukan masa depannya sendiri.
Melalui tokoh utama, Hamidah menunjukkan bahwa pendidikan merupakan jalan penting untuk mengubah keadaan. Keberaniannya membuka “pintu pingitan” bukan sekadar tindakan melawan adat, melainkan upaya membuka akses yang lebih luas bagi perempuan untuk memperoleh pengetahuan. Tokoh utama bahkan menegaskan, “Adat inilah yang lebih dahulu mesti diperangi. Inilah yang kucita-citakan” (hlm. 18). Kutipan tersebut menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak akan terjadi apabila masyarakat terus mempertahankan kebiasaan yang justru menghambat kemajuan.
Namun, Hamidah tidak membiarkan novelnya berhenti pada kritik semata. Tokoh utama tidak hanya mengeluhkan keadaan, tetapi juga bergerak untuk menciptakan perubahan. Ia mengajar, mendirikan perkumpulan perempuan, serta membuka kursus membaca dan menulis. Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa perubahan tidak cukup diwujudkan melalui gagasan, tetapi harus diikuti tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Perjuangan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa kemajuan bangsa harus dimulai dari perempuan. Gagasan itu tampak ketika tokoh utama menyatakan bahwa “apabila akan memperbaiki sesuatu bangsa mestilah dimulai dengan putri-putri bakal ibu” (hlm. 20). Pandangan ini menunjukkan bahwa pendidikan perempuan bukan hanya persoalan individu, melainkan investasi sosial yang menentukan masa depan masyarakat secara keseluruhan. Perempuan yang memperoleh akses pendidikan yang baik akan memiliki kesempatan lebih besar untuk melahirkan generasi yang juga terdidik.
Hal lain yang patut dicermati adalah bahwa perlawanan terhadap tradisi dalam novel ini tidak dilakukan dengan menolak agama. Sebaliknya, Hamidah justru mengkritik kecenderungan masyarakat yang mencampuradukkan adat dengan ajaran agama. Ketika keduanya tidak dibedakan secara jelas, lahirlah berbagai penilaian yang keliru, termasuk anggapan bahwa perempuan yang bersekolah atau aktif di ruang publik telah melanggar norma agama. Padahal, yang dipertahankan sebenarnya adalah kebiasaan sosial yang telah berlangsung turun-temurun.
Melalui Kehilangan Mestika, Hamidah mengingatkan bahwa kemajuan masyarakat tidak akan tercapai apabila perempuan terus dibatasi oleh tradisi yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan zaman. Tradisi memang penting sebagai bagian dari identitas budaya, tetapi tradisi juga perlu ditinjau kembali ketika justru menghambat akses perempuan terhadap pendidikan dan kesempatan untuk berkembang. Di tengah berbagai kemajuan yang telah dicapai perempuan saat ini, pesan tersebut tetap relevan. Kehilangan Mestika mengingatkan bahwa kemajuan tidak hanya ditentukan oleh perkembangan zaman, tetapi juga oleh keberanian masyarakat untuk meninjau kembali tradisi yang selama ini dianggap tidak dapat digugat. Selama masih ada kebiasaan yang membatasi perempuan untuk belajar dan berkembang, kritik Hamidah akan terus menemukan relevansinya.









