Miskin Gagasan, Kaya Makian: Potret Buram Kritik Politik di Media Sosial

Miskin Gagasan, Kaya Makian: Potret Buram Kritik Politik di Media Sosial
Visual seorang pengguna yang hendak mengakses media sosial X ini menjadi pengingat akan tanggung jawab kita bersama.

5BERITA.COM, Surabaya – Media sosial hari ini rasanya tidak pernah sepi. Tapi sayangnya, yang ramai bukan lagi adu gagasan, melainkan adu emosi. Kolom komentar yang seharusnya jadi ruang diskusi justru berubah jadi arena saling serang. Siapa pun yang sedang viral, hampir pasti akan jadi sasaran. Bukan untuk dikritik secara sehat, tapi untuk dihujat habis-habisan. Fenomena ini tidak muncul begitu saja.

Ada dorongan yang cukup kuat di baliknya, yaitu keinginan untuk selalu ikut terlibat dalam isu yang sedang ramai. Istilah kerennya, FOMO—Fear of Missing Out. Dalam konteks politik, ini terlihat dari kebiasaan netizen yang merasa “ketinggalan” kalau tidak ikut berkomentar. Masalahnya, banyak yang akhirnya berkomentar tanpa benar-benar paham persoalan.

Bacaan Lainnya

Alih-alih menyampaikan kritik yang membangun, banyak orang justru ikut-ikutan menghina. Tidak peduli benar atau salah, yang penting ikut bersuara. Bahkan sering kali, yang diserang bukan kebijakan atau argumen, tapi hal-hal pribadi—mulai dari fisik, latar belakang, sampai kehidupan keluarga.

Di titik ini, kritik sudah kehilangan arah. Padahal, kritik yang sehat itu seharusnya fokus pada ide, kebijakan, atau keputusan yang dibuat seseorang. Bukan menyerang siapa orangnya. Ketika yang terjadi justru sebaliknya, itu menunjukkan satu hal: kita sedang bermasalah dengan cara berpikir kita sendiri. Menyerang pribadi bukan tanda kepedulian politik, tapi tanda kehabisan argumen.

Yang lebih memprihatinkan, banyak orang menganggap perilaku ini sebagai hal biasa. Bahkan ada yang merasa puas setelah ikut “menjatuhkan” orang lain di kolom komentar. Seolah-olah, semakin pedas komentar yang ditulis, semakin tinggi nilai kontribusinya dalam diskusi. Padahal kenyataannya, itu hanya menambah kebisingan. Contoh nyatanya bisa dilihat di berbagai platform, salah satunya di Instagram dan X (Twitter).

Dalam sebuah video yang menampilkan pernyataan seorang pejabat tentang keterbukaan terhadap kritik, pesan yang disampaikan sebenarnya cukup jelas: silakan kritik kebijakannya, tapi jangan menyerang pribadinya. Apalagi sampai membawa isu ras atau latar belakang. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kolom komentar dipenuhi kalimat-kalimat yang bernada rasis dan merendahkan. Ada yang membandingkan fisik, ada yang menghina asal-usul, bahkan ada yang menyeret keluarga. Semua itu dilakukan tanpa rasa bersalah, seolah-olah itu bagian dari kebebasan berpendapat.

Di titik ini, kita perlu jujur mengakui: masalahnya bukan hanya pada individu, tapi juga pada budaya digital yang kita bangun bersama. Kita terlalu terbiasa bereaksi cepat, tanpa berpikir panjang. Emosi lebih sering jadi dasar daripada logika. Akibatnya, ruang publik digital yang seharusnya sehat justru dipenuhi hal-hal yang merusak.

Padahal, kalau dipikir-pikir, apa sebenarnya yang kita dapat dari menghina orang lain? Kepuasan sesaat, mungkin. Tapi setelah itu? Tidak ada perubahan nyata. Tidak ada solusi. Yang ada justru semakin banyak konflik dan perpecahan. Kondisi ini juga menunjukkan bahwa literasi digital kita masih rendah.

Banyak yang belum bisa membedakan antara kritik dan hujatan. Belum terbiasa menyampaikan pendapat dengan cara yang beradab. Dan yang paling penting, belum sadar bahwa setiap kata yang ditulis di media sosial punya dampak. Bukan berarti kita tidak boleh mengkritik. Justru sebaliknya, kritik itu penting dalam kehidupan demokrasi. Tapi kritik harus disampaikan dengan cara yang benar.

Harus berbasis pada fakta, logika, dan tujuan yang jelas. Bukan sekadar pelampiasan emosi atau ikut-ikutan tren. Kalau kita terus membiarkan budaya ini berkembang, dampaknya tidak kecil. Ruang diskusi publik akan semakin rusak. Orang-orang yang sebenarnya punya gagasan bagus bisa jadi enggan bersuara karena takut diserang. Dan pada akhirnya, kita sendiri yang rugi karena kehilangan kualitas dalam percakapan publik.

Sudah saatnya kita mengubah cara kita berinteraksi di media sosial. Tidak harus langsung sempurna, tapi setidaknya mulai lebih sadar. Sebelum menulis komentar, coba pikirkan: apakah ini benar-benar kritik, atau hanya emosi sesaat? Apakah ini menambah nilai, atau justru memperkeruh suasana? Menjadi warga digital yang baik tidak harus selalu pintar, tapi harus mau berpikir.

Tidak harus selalu setuju, tapi harus tahu cara menyampaikan ketidaksetujuan. Karena pada akhirnya, kualitas ruang publik kita ditentukan oleh cara kita sendiri dalam mengisinya. Kalau kita ingin melihat perubahan, maka perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri. Berhenti ikut-ikutan menghujat, dan mulai berani menyampaikan pendapat dengan cara yang lebih bermartabat. Karena tanpa itu, media sosial hanya akan terus jadi tempat yang ramai, tapi kosong makna

Penulis:
– Laili Izzah Salsabilla
– Achmad Fatikhul Labieb
– Shafira Farda Alwiya
– Nayla Shabrina
– Dr. Khusnul Khotimah, S.Pd., M.Pd.
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

Editor: Nur Ardi, Tim 5Berita.com

Pos terkait