Mahasiswa UNY Perkuat Inklusi Sosial Anak Panti Asuhan Al Wahhaab Sinar Melati 11 Lewat Permainan Tradisional sebagai Wujud SDGs 10

Mahasiswa UNY Perkuat Inklusi Sosial Anak Panti Asuhan Al Wahhaab Sinar Melati 11 Lewat Permainan Tradisional sebagai Wujud SDGs 10
Foto Bersama Anak Panti Asuhan Al Wahhaab Sinar Melati 11.

5BERITA.COM, Yogyakarta — Halaman Panti Asuhan Al Wahhaab Sinar Melati 11 menjadi saksi keceriaan anak-anak yang bersemangat mengikuti rangkaian permainan tradisional. Minggu, 3 Mei 2026, enam mahasiswa Prodi Pendidikan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar kegiatan penguatan inklusi sosial melalui permainan tradisional bersama 12 anak panti. Melalui estafet sarung, lompat tali, congklak, hingga gobak sodor, mereka mengajak anak-anak panti untuk berbaur, bergerak, dan saling terhubung sebagai bagian dari implementasi SDGs 10 dalam mata kuliah Pendidikan dan Pembangunan Berkelanjutan.

Anak-anak yang tinggal di panti asuhan kerap menghadapi tantangan tersendiri dalam membangun interaksi sosial. Keberagaman latar belakang dan rentang usia yang ada di lingkungan panti berpotensi menciptakan kesenjangan dalam pola interaksi antar anak. Berangkat dari kondisi itulah, kelompok mahasiswa UNY merancang pendekatan yang partisipatif dan menyenangkan sebagai upaya mendorong terciptanya interaksi yang lebih inklusif.

Bacaan Lainnya

Permainan tradisional dipilih bukan tanpa alasan. Selain mudah diterapkan tanpa memerlukan fasilitas yang kompleks, permainan tradisional terbukti mampu meningkatkan kemampuan interaksi, komunikasi, dan rasa percaya diri anak. Melalui permainan, anak-anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan mengelola emosi mereka secara alami.

Sebanyak 12 anak dibagi menjadi dua kelompok secara acak untuk bergantian memainkan permainan mulai dari estafet sarung, congklak, lompat tali, dan gobak sodor. Pembagian kelompok secara acak ini menjadi bagian dari upaya mendorong inklusi sosial, sejalan dengan SDGs ke-10 yaitu memastikan setiap anak mendapat kesempatan yang setara untuk berinteraksi dengan siapa pun, bukan hanya teman dekatnya. Setiap permainan berlangsung dengan meriah. Permainan estafet sarung memulai kegiatan ini, semua anak antusias bekerja sama meski baru pertama kali satu kelompok. Saat permainan congklak, beberapa anak sangat antusias untuk bermain tetapi ada juga yang bermain secara spontan. Sedangkan pada saat permainan lompat tali, anak-anak saling bergantian dan bersedia membantu memegang tali agar anak lain bisa bermain. Selama permainan berjalan, setiap anak aktif berinteraksi, bekerja sama, dan saling mendukung untuk dapat menyelesaikan semua permainan yang ada.

Di balik kemeriahan permainan, mahasiswa turut berperan aktif sebagai fasilitator selama kegiatan berlangsung. Mereka tidak hanya mengarahkan jalannya permainan, tetapi juga memberikan motivasi kepada anak-anak yang tampak kurang percaya diri untuk ikut terlibat, serta memastikan setiap anak mendapat kesempatan yang adil untuk berpartisipasi. Kehadiran fasilitator yang aktif ini menjadi kunci terciptanya suasana yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta, termasuk anak-anak yang cenderung pendiam atau belum terbiasa berinteraksi dengan orang baru. Dengan pendampingan yang konsisten sepanjang kegiatan, tidak ada satu pun anak yang dibiarkan hanya menjadi penonton, semua didorong untuk terlibat dan menjadi bagian dari kebersamaan.

Suasana menjadi lebih ramai pada saat permainan gobak sodor. Dua kelompok menunjukkan antusiasme tinggi untuk menyusun strategi agar dapat memenangkan permainan. Meskipun permainan berlangsung secara kompetitif, anak-anak tetap menunjukkan sikap untuk saling merangkul dan berinteraksi tanpa membedakan kelompok atau teman dekat. Pada akhir permainan ini, seluruh anak bergabung menjadi satu tim untuk bermain melawan tim fasilitator. Suasana menjadi semakin seru karena semua berpartisipasi aktif dan saling memberikan semangat. Kegiatan ini menunjukkan permainan tradisional dapat menciptakan interaksi sosial yang inklusif dan mempererat kebersamaan antara anak-anak panti asuhan.

Setelah seluruh rangkaian permainan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi refleksi singkat. Anak-anak diajak untuk berbagi perasaan dan pengalaman mereka selama mengikuti kegiatan. Momen ini menjadi ruang yang hangat, di mana anak-anak secara terbuka mengungkapkan kesan mereka mulai dari permainan favorit hingga rasa senang bisa bermain bersama.

Pengurus Panti Asuhan Al Wahhaab Sinar Melati 11 menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan bermain bersama yang dilakukan mahasiswa karena dinilai dapat memberikan suasana baru yang menyenangkan dan menjadi pengisi hari libur anak-anak panti asuhan.

Salah satu peserta kegiatan menyampaikan, “(Aku paling suka) gobak sodor soalnya seru, lari-larian.” Ia menambahkan bahwa permainan gobak sodor menjadi permainan paling seru karena melibatkan aktivitas fisik sehingga semua anak lebih aktif dalam bermain.

Kegiatan ini merupakan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) ke-10 mengenai Reduce Inequalities (mengurangi kesenjangan) yang menekankan terkait pentingnya kesempatan yang setara bagi setiap individu. Bagi anak panti asuhan, inklusi sosial merupakan hal penting sebagai pembuka ruang interaksi yang aman dan setara. Melalui permainan tradisional ini, anak-anak dapat berpartisipasi secara aktif tanpa memandang kedekatan pertemanan maupun perbedaan lainnya, sehingga semua bisa bermain bersama secara inklusif. Kegiatan ini menjadi bentuk upaya nyata untuk menumbuhkan dan memperkuat inklusi sosial sekaligus mengurangi kesenjangan interaksi antar anak, sebuah langkah kecil yang sejalan dengan komitmen besar SDGs ke-10.

Melalui kegiatan ini, kelompok mahasiswa UNY berharap anak-anak panti tidak hanya memperoleh pengalaman bermain yang menyenangkan, tetapi juga membawa pulang keberanian baru untuk berinteraksi dan berbaur tanpa sekat. Lebih dari itu, kelompok mendorong agar pendekatan serupa dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh pihak panti sebagai bagian dari aktivitas rutin, sehingga nilai-nilai kerja sama, empati, dan kebersamaan yang telah tumbuh selama kegiatan dapat terus berkembang dan memperkuat inklusi sosial di lingkungan panti secara jangka panjang.

Mahasiswa UNY Perkuat Inklusi Sosial Anak Panti Asuhan Al Wahhaab Sinar Melati 11 Lewat Permainan Tradisional sebagai Wujud SDGs 10
Foto Sesi Pembukaan Kegiatan
Mahasiswa UNY Perkuat Inklusi Sosial Anak Panti Asuhan Al Wahhaab Sinar Melati 11 Lewat Permainan Tradisional sebagai Wujud SDGs 10
Foto Sesi Bermain Gobak Sodor.
Mahasiswa UNY Perkuat Inklusi Sosial Anak Panti Asuhan Al Wahhaab Sinar Melati 11 Lewat Permainan Tradisional sebagai Wujud SDGs 10
Foto Sesi Bermain Congklak.

Penulis:
– Kamala Zahrah Raiyaputri
– Inna Sholikhah
– Muhammad Akmal
– Nashwa Aurora Pradipta
– Opixta Zafira
– Exsel Adriano Wirawan

Asal Kampus: Universitas Negeri Yogyakarta

Editor: Nur Ardi, Tim 5Berita.com

Pos terkait