5BERITA.COM, Jakarta — Melihat generasi muda Indonesia yang sering kali terjebak dalam keraguan, keterbatasan akses, dan harapan yang hanya menjadi angan-angan, Madin Muhammad memiliki keyakinan bahwa masa depan pemuda tidak hanya untuk ditunggu, tetapi harus dibangun melalui gerakan nyata.
Baginya, generasi muda Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang, berkarya, dan memimpin, namun membutuhkan ruang yang tepat untuk belajar, berdiskusi, berkolaborasi, serta mengembangkan kemampuan diri.
Dari semangat tersebut lahirlah sebuah gagasan untuk menciptakan ruang bagi pelajar melalui Forum Organisasi Nasional (FON) Edu Network Indonesia, sebuah platform gerakan kepemudaan yang berfokus pada pengembangan skill, organisasi, kepemimpinan, literasi, komunikasi, dan keterampilan masa depan.
Sebelum membangun FON, Madin telah memiliki perjalanan panjang dalam dunia kreativitas dan kewirausahaan sejak usia muda. Sejak kecil, ia mulai memahami arti kerja keras dan tanggung jawab. Ia terbiasa membantu aktivitas ibunya untuk mendapatkan uang jajan, sehingga secara perlahan membentuk pola pikir tentang kemandirian, usaha, dan bagaimana sebuah proses dapat menghasilkan nilai.
Ketika duduk di kelas 3 SD, Madin mulai mencoba dunia bisnis kecil dengan menjual stiker permainan. Dari pengalaman tersebut, ia belajar bagaimana menawarkan produk, memahami kebutuhan orang lain, melatih komunikasi, serta membangun keberanian dalam berinteraksi.
Tidak berhenti di sana, ketika berada di kelas 4 hingga 6 SD, ia mulai mengembangkan kreativitasnya melalui penjualan produk digital seperti jasa editan dan akun game.
Memasuki jenjang SMP kelas 7, Madin mulai mengembangkan kemampuan literasi dengan menciptakan 4 karya buku yang berhasil terjual sekitar Rp5 juta dengan modal penerbitan sekitar Rp2,5 juta.
Perjalanan Madin berkembang ketika ia menjadi seorang santri di Pondok Pesantren Modern Ummul Quro melalui program Duta Santri. Ia mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan dan menjalankan misi pendidikan dengan mengajar di sekolah-sekolah saat bulan Ramadan.
Madin tidak ingin kegiatan tersebut hanya berhenti pada aktivitas mengajar, tetapi ingin menciptakan dampak yang lebih panjang melalui gerakan pelajar.
Langkah awal tersebut dilakukan melalui kegiatan bersama beberapa sekolah seperti SMP 1 PGRI, SMP YPPI Ar-Rahman, dan SMP IT RJ. Dari berbagai pengalaman tersebut, Madin membangun fondasi Forum Organisasi Nasional (FON) sebagai wadah kolaborasi dan pengembangan pelajar Indonesia.
Dalam pengembangannya, Madin juga menciptakan program Pesantren Ramadan di SD Permata Bunda yang terlaksana selama satu setengah hari bersama teman-temannya. Dari kegiatan tersebut ia mendapatkan pengalaman, apresiasi, dan relasi hingga mendapat kesempatan menghadiri kegiatan seminar administrasi di Kedutaan Besar Amerika Serikat.
Kini FON Edu Network Indonesia berkembang sebagai platform gerakan pelajar yang berfokus pada leadership, public speaking, literasi, komunikasi, organisasi, dan keterampilan abad ke-21.
FON hadir melalui kolaborasi bersama Ambisku.id sebagai perusahaan berbasis pendidikan serta SukaNulis.id sebagai publisher dan penerbitan.
FON bukan hanya sekadar platform belajar, tetapi juga forum komunitas dan ruang diskusi bagi pemuda Indonesia. Melalui FON Community yang berada di bawah naungan FON Edu Network Indonesia, para pelajar dapat membangun relasi, bertukar gagasan, berdiskusi, dan menciptakan berbagai aktivitas komunitas.
Program FON meliputi podcast inspiratif pemuda, video edukasi pelajar, platform digital pendidikan, lebih dari 10 kelas online pengembangan skill, komunitas nasional, serta program sponsorship pendidikan.
Dalam proyek pengembangan berikutnya, FON akan mengadakan kegiatan di 20 sekolah se-Bogor, 30 sekolah se-Jabodetabek, serta 50 sekolah melalui program online nasional.
Setelah rangkaian One Student One Book, FON akan menghadirkan Forum Students Meeting sebagai ruang pertemuan pelajar untuk berdiskusi, berbagi ide, memperluas jaringan, dan menciptakan kolaborasi baru.
Bagi Madin Muhammad, FON bukan hanya sebuah organisasi atau platform pendidikan, tetapi sebuah gerakan pemuda yang membuktikan bahwa pelajar Indonesia mampu berbicara, berkarya, memimpin, dan menjadi bagian dari perubahan.
“Harapan tidak hanya untuk ditunggu, tetapi untuk dibangun bersama melalui keberanian, karya, dan kolaborasi generasi muda.”









