Peran UMKM dalam Membentuk Relasi Sosial dan Praktik Ekonomi Lokal di Kawasan Shilla Sawangan

Peran UMKM dalam Membentuk Relasi Sosial dan Praktik Ekonomi Lokal di Kawasan Shilla Sawangan
Food Truck Boss Kitchen (Kedai Bu Ina) Shila Sawangan, Kota Depok.)

5BERITA.COM, Jakarta — Keberadaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kerap dipahami sebatas aktivitas ekonomi untuk mencari keuntungan. Padahal, di banyak ruang publik perkotaan, UMKM justru memainkan peran yang jauh lebih luas: membangun relasi sosial, menciptakan ruang interaksi, serta menghidupkan ekonomi lokal. Fenomena ini dapat dilihat secara nyata di kawasan Shilla Sawangan, khususnya di area Parade Food Truck yang berada di Senopati Boulevard.

Kawasan ini bukan sekadar pusat kuliner, melainkan ruang publik yang hidup. Setiap sore hingga malam, pelaku UMKM dan pengunjung terlibat dalam interaksi sosial yang berlangsung berulang. Aktivitas jual beli tidak hanya berfungsi sebagai pertukaran ekonomi, tetapi juga sebagai medium membangun kepercayaan, kedekatan, dan jaringan sosial antara pelaku usaha dan konsumen.

Bacaan Lainnya

Dalam praktik sehari-hari, pelaku UMKM di Shilla Sawangan menjalankan aktivitas ekonomi yang sangat bergantung pada relasi sosial. Proses produksi, misalnya, tidak selalu dilakukan secara mandiri. Sebagian pelaku usaha menjalin kerja sama dengan UMKM lain di lingkup lokal. Salah satu pelaku usaha menyampaikan bahwa kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi bertahan usaha.

“Produksi makanan saya juga melibatkan teman-teman UMKM lain. Ada yang produksi dari rumah, saya ambil produknya lalu saya olah dan jual di sini,” ujar Ibu Ina, pemilik salah satu food truck di kawasan tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa praktik ekonomi UMKM tidak berdiri sendiri, melainkan tertanam dalam jaringan sosial yang saling terhubung. Relasi antar pelaku usaha memungkinkan UMKM saling menopang di tengah keterbatasan modal dan sumber daya.

Relasi sosial juga sangat terasa dalam praktik penjualan. Interaksi langsung, komunikasi yang cair, serta pelayanan yang ramah menjadi strategi utama dalam membangun loyalitas pelanggan. Bagi pelaku UMKM, hubungan personal sering kali lebih menentukan dibanding sekadar harga atau promosi. Seorang pelaku usaha bahkan menegaskan bahwa dimensi sosial tidak bisa dipisahkan dari aktivitas jual beli.

“Jualan itu bukan cuma soal makanan, tapi juga soal hubungan,” ungkap Ibu Ina.

Kepercayaan yang terbangun dari interaksi berulang tersebut kemudian berkembang menjadi modal sosial. Pelanggan yang merasa nyaman tidak hanya kembali membeli, tetapi juga merekomendasikan kepada orang lain. Dalam konteks ini, relasi sosial berfungsi sebagai penopang keberlangsungan usaha.

Peran UMKM dalam Membentuk Relasi Sosial dan Praktik Ekonomi Lokal di Kawasan Shilla Sawangan

Selain hubungan dengan pelanggan, jaringan sosial antar pelaku UMKM juga memainkan peran penting. Pelaku usaha di Shilla Sawangan tergabung dalam komunitas UMKM yang menjadi ruang berbagi informasi, mulai dari pelatihan hingga sertifikasi usaha. Jaringan ini membantu pelaku UMKM untuk tidak berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan usaha.

Namun, keberlangsungan UMKM di kawasan ini juga dipengaruhi oleh relasi dengan pengelola kawasan. Dukungan dalam bentuk promosi, penyelenggaraan acara, dan pengelolaan ruang publik berdampak langsung pada tingkat kunjungan. Ketika dukungan tersebut melemah, pelaku UMKM merasakan penurunan aktivitas ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa praktik ekonomi lokal juga ditentukan oleh relasi struktural di luar pelaku usaha.

Melalui dinamika tersebut, UMKM di Shilla Sawangan dapat dipahami sebagai aktor sosial dalam ekonomi lokal. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga menciptakan ruang interaksi dan membangun kehidupan sosial di kawasan tersebut. Aktivitas UMKM memperlihatkan bahwa ekonomi lokal bergerak melalui keterlekatan antara praktik ekonomi dan relasi sosial yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman UMKM di Shilla Sawangan menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi lokal tidak cukup hanya berbicara soal omzet dan pertumbuhan. Kepercayaan, interaksi, dan jaringan sosial merupakan fondasi penting yang menopang keberlanjutan UMKM. Ketika relasi sosial terbangun dengan kuat, UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi bagian dari denyut kehidupan sosial masyarakat.

Penulis: Dhea Yulia Rhandi, Natjwa Aziska Ramadhani
mahasiswa Sosiologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Nur Ardi, Tim 5Berita.com

Pos terkait