5BERITA.COM, Klaten – Produktivitas padi di Kabupaten Klaten menjadi salah satu yang terbesar di Jawa Tengah. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) Klaten mencatat produksi padi tahun 2024 diperkirakan mencapai 8.83 juta ton dan luas panen padi sekitar 1.55 juta hectare.
Tingginya jumlah produksi dapat disimpulkan bahwa jumlah limbah dari padi juga meningkat. Melimpahnya limbah sekam padi di Desa Tambakan, yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, memicu mahasiswa KKN UNDIP untuk menghadirkan solusi inovatif mengenai pemanfaatan limbah. Pada Senin, 26 Januari 2026, digelar sosialisasi bertajuk “Penggunaan Abu Sekam Padi untuk Campuran Tambahan pada Batako” sebagai bagian dari program sosial masyarakat.

Berbeda dengan acara formal biasanya, sosialisasi kali ini dilaksanakan dengan suasana kekeluargaan di salah satu kediaman Ketua RT di wilayah Dukuh Setan, Desa Tambakan. Lokasi ini dipilih agar komunikasi antara mahasiswa dan tokoh masyarakat, termasuk jajaran RT dan RW setempat, dapat terjalin lebih efektif dan langsung menyentuh akar rumput.
Dukuh Setan dan Desa Tambakan secara umum memiliki potensi pertanian yang besar, namun hal ini juga menyisakan tumpukan sekam padi yang seringkali hanya menjadi limbah yang tak terpakai. Mahasiswa KKN melihat peluang ini untuk meningkatkan nilai guna limbah tersebut.
“Karena di Desa Tambakan ini mayoritas petani, sekam padi sangat mudah ditemukan. Daripada hanya dibuang atau dibakar yang mana harga jualnya sangat rendah, kami mengolahnya menjadi abu untuk campuran batako yang diharapkan bisa meningkatkan mutu dari batako itu sekaligus merangkap pemanfaatan limbah,” ungkap mahasiswa penanggung jawab program.

Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa juga membawa dan memamerkan produk hasil batako yang telah dicampur dengan abu sekam padi. Warga dan pengurus RT/RW yang hadir dapat melihat langsung tekstur dan kekuatan batako tersebut. Penggunaan abu sekam ini terbukti mampu menjadi bahan tambahan yang baik, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada penggunaan semen murni tanpa mengurangi kualitas bangunan dan justru meningkatkan mutu batako dengan campuran yang tepat.
Respon positif datang dari para ketua RT dan RW yang hadir. Mereka menilai kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan warga Tambakan. Dengan pengetahuan baru ini, diharapkan warga petani tidak lagi kesulitan membuang limbah sekam, melainkan justru mengumpulkannya untuk kebutuhan konstruksi yang lebih ekonomis.
Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi pemicu bagi masyarakat di Desa Tambakan untuk mulai melirik limbah pertanian sebagai aset ekonomi yang menjanjikan dalam pembangunan desa.









