Lewat KKN-T, Mahasiswa UNDIP Hadirkan Booklet “Plamongansari: Dari Rawa ke Aksara” untuk Ungkap Sejarah Plamongansari, Budaya Batik, dan Dinamika Sosial Warga

Lewat KKN-T, Mahasiswa UNDIP Hadirkan Booklet “Plamongansari: Dari Rawa ke Aksara” untuk Ungkap Sejarah Plamongansari, Budaya Batik, dan Dinamika Sosial Warga
Mahasiswa KKN-T Undip menyusun booklet edukatif bertajuk “Plamongansari: Dari Rawa ke Aksara” untuk menggali dan mempromosikan sejarah, budaya, serta kehidupan sosial masyarakat Plamongansari.

5BERITA.COM, SEMARANG – Dalam rangka pelestarian sejarah lokal dan pemberdayaan masyarakat berbasis budaya, mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) yang tergabung dalam KKN-T Tim 105 menyusun sebuah booklet berjudul “Plamongansari: Dari Rawa ke Aksara”. Booklet ini merupakan karya monodisiplin dari Fayza Tarisha Dewi, mahasiswa Program Sejarah, yang menyoroti perjalanan historis, potensi budaya, serta dinamika sosial Kelurahan Plamongansari, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang.

Melalui riset lapangan dan wawancara langsung dengan masyarakat serta tokoh lokal, booklet ini mengangkat berbagai aspek penting yang sering terabaikan, mulai dari asal-usul kawasan Plamongansari, perubahan wilayah berdasarkan perkembangan peta sejarah sejak tahun 1985, hingga peran aktif masyarakat dalam melestarikan budaya batik dan membangun kehidupan sosial yang harmonis.

Bacaan Lainnya

Asal-Usul dan Transformasi Plamongansari

Dalam lembaran awal booklet, pembaca diajak mengenal latar belakang Plamongansari yang pada masa lampau dikenal sebagai daerah berlumpur dan jarang dihuni. Namun seiring berjalannya waktu, khususnya sejak tahun 1985, daerah ini mulai mengalami perubahan signifikan. Pembangunan pemukiman dan infrastruktur dasar mulai dirintis, mengubah kawasan rawa menjadi lingkungan layak huni.

Peta Perkembangan Wilayah: 1985 – Kini

Booklet ini juga menyajikan dokumentasi visual berupa peta perkembangan Plamongansari dari masa ke masa. Pada tahun 1990–2000, wilayah ini mulai dipadati oleh pendatang dari berbagai daerah. Jalan-jalan lingkungan diperbaiki dan pembangunan rumah tinggal meningkat. Memasuki tahun 2005 hingga sekarang, Plamongansari mengalami percepatan pertumbuhan ekonomi dan sosial. Pusat-pusat kegiatan warga bermunculan, mulai dari balai RW hingga pusat UMKM.

Lewat KKN-T, Mahasiswa UNDIP Hadirkan Booklet “Plamongansari: Dari Rawa ke Aksara” untuk Ungkap Sejarah Plamongansari, Budaya Batik, dan Dinamika Sosial Warga

UMKM Batik Rusyda: Dari Rumah ke Panggung Nasional

Salah satu sorotan utama dalam booklet adalah sejarah berdirinya UMKM Batik Rusyda. Usaha ini dirintis oleh seorang tokoh lokal yang terinspirasi untuk melestarikan budaya membatik di tengah masyarakat perkotaan. Berawal dari pelatihan kecil-kecilan di rumahnya sendiri, kini Batik Rusyda berkembang menjadi ikon batik khas Plamongansari. Melalui pelatihan membatik yang terbuka untuk warga dan wisatawan, Batik Rusyda tidak hanya membangun ekonomi lokal, tetapi juga menjadi wahana edukasi budaya.

Motif dan Makna Batik Warak dan Semarangan

Tidak hanya soal usaha, booklet ini juga mengulas makna filosofis dari motif batik lokal. Motif Batik Warak, misalnya, menggambarkan makhluk mitos Warak Ngendog yang menjadi simbol akulturasi budaya Semarang. Sementara Batik Cap Semarangan menampilkan ikon-ikon kota Semarang seperti Lawang Sewu dan Tugu Muda, menjadi bentuk visualisasi sejarah kota dalam selembar kain.

Kehidupan Sosial yang Semakin Dinamis

Di sisi lain, booklet ini merekam geliat sosial masyarakat Plamongansari yang kian aktif. Kegiatan ibu-ibu PKK, posyandu balita, hingga senam pagi rutin menjadi bagian dari gaya hidup sehat warga. Aktivitas tersebut mencerminkan semangat gotong-royong dan kebersamaan yang terus dijaga sejak dulu hingga kini.

Booklet ini tidak hanya menjadi dokumen sejarah, tetapi juga menjadi cermin perkembangan masyarakat Plamongansari yang dinamis, kreatif, dan berbudaya. Melalui upaya pelestarian dan edukasi ini, diharapkan generasi muda semakin mengenal dan mencintai sejarah serta kekayaan lokal di sekitarnya.

Kegiatan pembuatan dan penyerahan booklet ini merupakan bagian dari rangkaian program KKN-T Undip Tim 105 yang berlangsung selama 27 hari. Di bawah bimbingan Ibu Riris Tiani, S.S., M. Hum. dan Pak Fajrul Falah, S. Hum., M. Hum. Selaku Dosen Pembimbing Lapangan, mahasiswa berharap program ini tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat Plamongansari dalam mengenal dan melestarikan sejarah lokalnya, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang berkelanjutan bagi generasi muda agar lebih mencintai warisan budaya di sekitarnya.

Editor: Nur Ardi, Tim 5Berita.com

Pos terkait