5BERITA.COM, Tangsel — Dalam studi sosiolinguistik, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan mobilitas sosial dan identitas suatu kelompok. Keberadaan masyarakat bilingual (dua bahasa) dan multilingual (banyak bahasa) sering kali membawa konsekuensi pada perubahan penggunaan bahasa, yang dikenal sebagai proses pergeseran dan pemertahanan bahasa.
Pergeseran Bahasa dan Faktor Ekonomi Pergeseran bahasa berkaitan erat dengan mobilitas penutur, di mana perpindahan individu dari satu masyarakat tutur ke masyarakat tutur lainnya menyebabkan bahasa asli mereka perlahan memudar. Proses ini umumnya terjadi di wilayah yang menawarkan harapan kehidupan sosial ekonomi yang lebih menjanjikan, sehingga menarik minat imigran untuk mendatanginya.
Sebaliknya, daerah dengan prospek ekonomi yang suram cenderung ditinggalkan, yang pada akhirnya mempercepat kepunahan bahasa di daerah asal tersebut. Secara teknis, pergeseran bahasa dalam diri seorang penutur mengikuti tahapan perkembangan kemampuan bahasa.
Dimulai dari seorang Monolingual yang hanya menguasai bahasa ibu (B-ib) , kemudian masuk ke tahap Bilingual Bawahan di mana bahasa baru (B-in) mulai dipelajari , hingga mencapai tahap Bilingual Setara. Namun, tekanan fungsi bahasa kedua (B2) yang lebih superior sering kali membuat penutur bergeser kembali menjadi Bilingual Bawahan di mana bahasa baru lebih dominan (B-in – B-ib) , dan berakhir pada kondisi Monolingual bahasa baru sepenuhnya.
Pemertahanan Bahasa: Kasus Melayu Loloan Di sisi lain, pemertahanan bahasa berkaitan dengan sikap dan penilaian penutur untuk tetap menggunakan bahasa aslinya di tengah dominasi bahasa lain. Contoh nyata dari fenomena ini adalah masyarakat Melayu Loloan di Bali. Meskipun bahasa Bali merupakan bahasa yang dominan (B2), penduduk Loloan tetap menggunakan Melayu Loloan sebagai bahasa pertama (B1) mereka.
Terdapat beberapa faktor krusial yang mendukung pemertahanan bahasa tersebut, antara lain:
Pola Pemukiman: Wilayah tempat tinggal mereka terkonsentrasi di satu titik yang terpisah dari masyarakat mayoritas. Toleransi Sosial: Adanya kemauan dari masyarakat mayoritas (Bali) untuk menggunakan bahasa Melayu Loloan saat berinteraksi dengan kelompok minoritas tersebut. Identitas dan Loyalitas: Bahasa menjadi lambang identitas agama (Islam) yang membedakan mereka dengan mayoritas penduduk lokal yang beragama Hindu.
Transmisi Generasi: Adanya kesinambungan dalam pengalihan bahasa dari generasi tua ke generasi muda secara konsisten. Penutup Pergeseran dan pemertahanan bahasa adalah dua sisi mata uang dalam fenomena kebahasaan di dunia modern yang memiliki mobilitas tinggi. Pergeseran sering kali didorong oleh kebutuhan ekonomi dan adaptasi, sementara pemertahanan membutuhkan loyalitas kelompok dan identitas yang kuat. Memahami kedua proses ini penting untuk menjaga keberagaman bahasa di tengah tantangan globalisasi dan dominasi bahasa-bahasa tertentu
Penulis: Ade Pratama









