Sulap Ampas Tahu Jadi Pupuk Organik Cair, Mahasiswa KKN-T IDBU 69 UNDIP Olah Limbah Tahu Jadi Pupuk yang Ramah Lingkungan

A group of people sitting on a rug AI-generated content may be incorrect.
Mahasiswa KKN Undip memberikan pemaparan tentang pentingnya pengolahan limbah tahu menjadi pupuk organik cair (POC) kepada warga, pelaku UMKM, dan petani di Desa Sugihmanik, Grobogan. Kegiatan ini bertujuan memberikan solusi ramah lingkungan untuk limbah tahu.

5BERITA.COM, GROBOGAN — Dusun Sendang Mudal merupakan dusun dengan jumlah UMKM tahu terbanyak di Desa Sugihmanik. Aktivitas produksi tahu yang berlangsung setiap hari telah mendorong pertumbuhan ekonomi warga dan menjadi salah satu penggerak utama perekonomian desa. Namun, perkembangan usaha ini juga menghasilkan limbah padat berupa ampas tahu dalam jumlah besar.

Oleh karena itu, mahasiswa KKN-T IDBU 69 Universitas Diponegoro yang didampingi langsung oleh Prof. Dr. Sri Hartini, S.T., M.T. selaku dosen pembimbing lapangan melihat potensi besar untuk melakukan edukasi mengenai pemanfaatan limbah yang dihasilkan dari produksi tahu untuk menjadi produk yang bernilai ekonomi dan mampu untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Bacaan Lainnya

Kegiatan yang berlangsung pada 13 Juli 2025 di Dusun Sendang Mudal, Desa Sugihmanik ini menghadirkan sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan limbah padat produksi tahu, yaitu ampas tahu menjadi pupuk organik cair (POC) yang ramah lingkungan.

Acara dihadiri oleh warga, pelaku UMKM tahu, dan para petani, dengan materi meliputi pengenalan POC, keunggulannya, serta praktik langsung pembuatan POC.

Program ini bertujuan mengurangi volume limbah hasil produksi tahu sekaligus menyediakan alternatif pupuk yang mampu meningkatkan kesuburan tanah dengan proses pembuatan yang mudah dan dapat diterapkan oleh masyarakat.

Adapun bahan dan alat yang dibutuhkan untuk membuat POC dari ampas tahu adalah sebagai berikut:

  1. 150 gram ampas tahu
  2. 20 ml atau 2 tutup botol EM4 (Effective Microorganisms 4)
  3. 1 liter air cucian beras
  4. 45 gram atau 3 sendok makan gula merah yang telah dipotong kecil
  5. Wadah tertutup, seperti ember tertutup atau botol besar
  6. Sendok pengaduk
  7. Lem solasi

Dalam melakukan demonstrasi, mahasiswa memperagakan langkah-langkah dengan sederhana. Semua bahan seperti ampas tahu, air cucian beras, gula merah, dan EM4 akan dilakukan pencampuran ke dalam botol besar atau ember, kemudian akan diaduk hingga semua tercampur merata. Untuk mendukung proses fermentasi, wadah ditutup rapat dengan menggunakan solasi. Terakhir, wadah tersebut akan disimpan pada tempat yang tidak terkena matahari langsung dengan durasi waktu 2-3 minggu.

A group of people sitting around a tableAI-generated content may be incorrect.
mahasiswa KKN Undip mendemonstrasikan cara membuat pupuk organik cair (POC) dari ampas tahu kepada warga Desa Sugihmanik, Grobogan. Pelatihan ini mengajarkan masyarakat untuk memanfaatkan limbah produksi tahu menjadi pupuk yang bermanfaat bagi lahan pertanian.

Pupuk Organik Cair (POC) hasil olahan ampas tahu ini memiliki berbagai manfaat bagi lahan pertanian. Kandungan nutrisi organiknya mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan ketersediaan unsur hara, serta merangsang pertumbuhan akar dan daun tanaman.

Selain itu, penggunaan POC dapat membantu mengembalikan keseimbangan mikroorganisme tanah sehingga tanah menjadi lebih subur secara alami tanpa ketergantungan pada pupuk kimia.

“Sebelumnya ampas tahu sering dibuat menjadi tempe gembus, pakan ternak, atau bahkan langsung dibuang sehingga menimbulkan bau tidak sedap dan dapat mencemari lingkungan. Sekarang dapat dilihat bahwa bahan itu justru bisa diolah menjadi pupuk yang berguna bagi lahan pertanian dan proses pembuatannya pun sederhana,” ujar salah seorang perwakilan petani yang hadir.

Melalui kegiatan ini, diharapkan keterampilan yang telah diperoleh warga dapat terus diterapkan secara mandiri. Dengan melimpahnya bahan baku ampas tahu di Dusun Sendang Mudal, berpotensi untuk melakukan produksi POC secara besar.

Untuk mewujudkan program ini secara keberlanjutan, masyarakat diharapkan membentuk kelompok produksi atau bekerja sama dengan perangkat desa untuk mengelola pembuatan dan pemasaran POC secara terorganisir. Langkah ini tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi warga.

Penulis: Ferry Anugerah

Editor: Nur Ardi, Tim 5Berita.com

Pos terkait