5BERITA.COM —
Mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) mengembangkan sebuah prototype alat pendeteksi upwelling berbasis Internet of Things (IoT) yang diterapkan pada Keramba Jaring Apung (KJA) di Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen. Inovasi ini bertujuan untuk membantu pembudidaya ikan air tawar dalam mendeteksi potensi kematian ikan secara dini akibat fenomena upwelling.
Upwelling merupakan peristiwa naiknya massa air dari dasar perairan ke permukaan yang membawa senyawa berbahaya seperti amonia serta menyebabkan penurunan kualitas air. Fenomena ini sering terjadi secara tiba-tiba, terutama pada malam hingga dini hari, dan menjadi salah satu penyebab utama kematian massal ikan di KJA. Kurangnya sistem pemantauan yang berkelanjutan membuat petani ikan sering kali terlambat melakukan tindakan pencegahan.
Menjawab permasalahan tersebut, Muhamad Reza Algifari dari Fakultas Teknik UNDIP merancang alat monitoring yang mampu memantau kadar amonia dan suhu air secara real-time. Prototype ini menggunakan sensor MQ-135 untuk mendeteksi gas amonia serta sensor DS18B20 untuk mengukur suhu air. Seluruh data sensor diolah menggunakan mikrokontroler ESP32 dan dikirimkan melalui jaringan internet sehingga dapat dipantau secara langsung.
Sistem ini dilengkapi dengan indikator peringatan yang memberikan notifikasi ketika kondisi air berada pada level waspada maupun bahaya. Dengan adanya informasi dini tersebut, pembudidaya ikan dapat segera melakukan langkah preventif seperti pengurangan kepadatan ikan, peningkatan aerasi, atau pergantian air sebelum terjadi kerugian yang lebih besar.
Penerapan prototype di KJA Desa Ngargotirto disambut positif oleh masyarakat setempat. Alat ini dinilai mampu membantu petani ikan dalam memahami kondisi kualitas air secara lebih akurat dan berkelanjutan, dibandingkan dengan metode manual yang selama ini digunakan.
Melalui inovasi ini, mahasiswa UNDIP berharap teknologi IoT dapat menjadi solusi praktis dan terjangkau bagi sektor perikanan budidaya di pedesaan. Selain meningkatkan produktivitas dan menekan risiko gagal panen, pengembangan alat ini juga menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pemanfaatan teknologi tepat guna untuk kesejahteraan masyarakat.










