FOMO dan Ilusi Kehadiran di Era Komunikasi Digital

FOMO dan Ilusi Kehadiran di Era Komunikasi Digital
Ilustrasi interaksi masyarakat di ruang digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern.

5BERITA.COM, Jakarta — Perkembangan komunikasi digital telah mengubah cara manusia berinteraksi, membangun relasi, sekaligus memaknai keberadaan dirinya. Media sosial memungkinkan individu terhubung tanpa batas ruang dan waktu, namun di balik kemudahan itu muncul fenomena psikologis yang semakin menguat, yakni Fear of Missing Out (FOMO). Rasa takut tertinggal dari tren, percakapan, dan pengalaman sosial ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan gejala komunikasi modern yang membentuk cara manusia melihat diri dan lingkungannya.

Dalam konteks komunikasi digital, eksistensi diri kerap diukur melalui visibilitas: seberapa sering seseorang muncul di linimasa, seberapa banyak respons yang diterima, dan seberapa relevan ia di mata jejaring sosialnya. Komunikasi tidak lagi berhenti pada pertukaran makna, tetapi bergeser menjadi sarana validasi diri. Seperti dikemukakan oleh Rulli Nasrullah (2015) dalam Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi, media sosial membentuk ruang di mana identitas diproduksi dan dipertontonkan secara terus-menerus, bukan sekadar direfleksikan.

Bacaan Lainnya

Fenomena FOMO semakin menguat karena realitas yang ditampilkan media digital bukanlah gambaran utuh kehidupan. Konten yang beredar telah melalui proses seleksi dan framing yang menonjolkan sisi terbaik, paling menarik, dan paling layak dikonsumsi publik. Dalam situasi ini, individu mudah membandingkan kehidupannya dengan citra ideal orang lain, tanpa menyadari bahwa apa yang dilihat hanyalah potongan realitas. Bungin (2017) menyebut kondisi ini sebagai bentuk konstruksi realitas media, di mana media tidak hanya menyampaikan realitas, tetapi juga membentuk persepsi sosial atas realitas tersebut.

Dampak FOMO tidak berhenti pada ranah psikologis, tetapi merembet ke pola pengambilan keputusan, terutama dalam konsumsi. Dorongan mengikuti tren membuat sebagian masyarakat membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan demi pengakuan sosial. Praktik buy now pay later atau paylater menjadi contoh bagaimana komunikasi digital, iklan, dan pengaruh influencer berkelindan membentuk perilaku konsumtif. Dalam situasi ini, pesan komunikasi bekerja sebagai alat pembentuk perilaku sosial yang kuat, sering kali tanpa disadari oleh penerimanya.

Pengaruh media, teman sebaya, dan figur publik digital semakin mempersempit jarak antara keinginan dan tindakan. Rasa “tak ingin tertinggal” membuat individu bertindak cepat, impulsif, dan minim refleksi. Padahal, seperti diingatkan oleh Onong Uchjana Effendy (2008), komunikasi yang efektif seharusnya tidak hanya memengaruhi sikap, tetapi juga memberi ruang bagi kesadaran dan pertimbangan rasional.

Menghadapi guncangan budaya FOMO ini, literasi media menjadi kunci penting. Literasi tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan media, tetapi juga kemampuan membaca, menafsirkan, dan mengkritisi pesan. Masyarakat terutama generasi muda, perlu menyadari bahwa apa yang tampil di media sosial bukanlah standar hidup yang wajib diikuti. Hidup sederhana, mengelola keuangan secara bijak, dan membedakan kebutuhan dari keinginan menjadi bentuk resistensi terhadap tekanan komunikasi digital yang berlebihan.

Di sisi lain, FOMO tidak selalu harus dimaknai secara negatif. Dorongan mengikuti tren dapat diarahkan pada hal-hal yang berdampak positif, seperti keterlibatan dalam kegiatan sosial, sukarelawan, dan solidaritas digital. Tantangannya terletak pada kesadaran individu dan kolektif untuk membangun ekosistem komunikasi yang lebih etis dan berorientasi pada kesejahteraan, bukan sekadar popularitas.

Pada akhirnya, memahami FOMO sebagai dampak komunikasi digital berarti melihatnya sebagai persoalan struktural dalam budaya media kontemporer. Komunikasi digital seharusnya menjadi sarana memperkuat hubungan antarindividu, bukan sumber kecemasan yang berkelanjutan. Di tengah arus informasi yang kian cepat, sikap kritis dan kesadaran diri menjadi penyeimbang agar teknologi tetap berpihak pada manusia, bukan sebaliknya.

Penulis: Gifandra Z. R. Aurellia
Mahasiswa Semester 1, Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Pancasila

Editor: Nur Ardi, Tim 5Berita.com

Pos terkait